January read list:
- God: A Biography – Jack Miles
- Sputnik Sweetheart – Haruki Murakami
- After the Quake – Haruki Murakami
January read list:
Hati dan pikirannya hanya untuk Yesus Kristus.
Saya teringat dengan salah satu metafora yang diutarakan oleh Murakami; seperti rel kereta api yang bersisian tapi tidak akan bertemu pada satu titik, mungkin seperti itulah jalan hidup saya dan gadis ini. Jika begitu adanya, baiklah sudah.
Malam ini saya ikut Komunitas Aleut mengunjungi klenteng di Jalan Klenteng. Merah, dupa, asap, perih mata, sembahyang, pengabdian diri, patung Buddha dan dewa-dewi, dan pengemis dadakan keras kepala. Suasana khusyuk yang menyenangkan, saya suka tempat-tempat seperti itu. Setelah dari klenteng, menuju tempat makan, kami memotong dari daerah pecinan sampai ke Jalan Gardujati. Ada gelandangan yang masturbasi di pinggir jalan dengan bermodalkan sarung yang menutupi kepala sampai lutut dan sebuah radio transistor. Quite absurd, indeed.
Selamat hari Imlek 2563!
Sedikit cerita tentang Haruki Murakami dari sudut pandang saya. Haruki Murakami adalah salah seorang penulis favorit saya. Beliau lahir di Kyoto, Jepang, pada tahun 1949. Persinggungan pertama saya dengan karya Haruki Murakami, kalau tidak salah, saat saya kuliah di tingkat dua. Seorang teman lama merekomendasikan buku beliau kepada saya. “Karakter tokohnya mirip sama kamu. Pas saya baca, saya kebayangnya itu kamu,” begitu dia bilang. Teman lama ini lalu meminjami saya sebuah kopi novel Haruki Murakami yang berjudul Dance, Dance, Dance. Saya pun membacanya sepanjang liburan semester.
Dari saat itu, satu per satu, saya mulai mengumpulkan karya-karya Haruki Murakami. Protagonis dalam seluruh karangan Haruki Murakami punya karakter yang serupa. Mereka memiliki hidup yang biasa-biasa saja dan penampilan yang biasa-biasa saja; mereka gemar membaca buku dan mendengarkan musik (khususnya jazz dan klasik); mereka penyendiri dan tidak punya banyak teman; dan, dari kesan yang saya tangkap, mereka semua diselimuti kabut.
“…Books and music were my best friends. I had a couple of good friends at school, but never met anyone I could really speak my heart to. We’d just make small talk, play soccer together. When something bothered me, I didn’t talk with anyone about it. I thought it over all by myself, came to a conclusion, and took action alone. Not that I really felt lonely. I thought that’s just the way things are. Human beings, in the final analysis, have to survive on their own.”
Seberapa besar kemungkinan seseorang menemukan suatu karya yang bisa mengucapkan hal-hal yang tidak terkatakan oleh benaknya?
Saya tertarik dengan tulisan-tulisan Murakami karena saya dapat merasakan suatu kedekatan yang menelanjangi keresahan yang kadang saya sendiri tak bisa definisikan dalam kata.
Saya bukan satu-satunya. Saya hanyalah satu dari jutaan titik yang bergulat dengan kesendirian.
“I’m always amazed how good you are at explaining things.”
“That’s my job,” I said. My words seemed somehow flat and stale. “You should try being an elementary-school teacher sometime. You’d never imagine the kind of questions I get. ‘Why isn’t the world square?’ ‘Why do squids have ten arms and not eight?’ I’ve learned to come up with an answer to just about everything.”
“You must be a great teacher.”
“I wonder,” I said. I really did wonder.
“By the way, why do squids have ten arms and not eight?”
(Sputnik Sweetheart – Haruki Murakami)
***
Di awal tahun yang baru ini koleksi buku saya bertambah oleh dua buah buku non-fiksi. Yang satu adalah buku bekas setebal 446 halaman yang saya beli melalui jejaring sosial, dan yang satu lagi buku filsafat yang diberikan oleh David sebagai oleh-oleh. Keduanya buku yang punya daya tarik intelektual. Saya baru membaca buku bekas yang saya beli itu, tapi itu saja sudah cukup membuat kepala saya terasa seberat gajah Thailand.
Akhirnya, saya pikir saya butuh melonggarkan syaraf-syaraf otak ini dengan ganti membaca buku fiksi. Jadi saya bongkar-bongkar kembali lemari buku saya, dan kemudian memutuskan untuk membaca ulang Sputnik Sweetheart karangan Haruki Murakami ini.
Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam kelam
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat keresahanmu
December read list:
***
Dua buku terakhir belum selesai saya baca.
Tahun 2011 akan segera berakhir. Dalam satu tahun ini saya telah membaca 33 buku. Lima belas novel, lima kumpulan cerita pendek, dan tiga belas buku non-fiksi. Tidak semua buku tersebut selesai saya baca. Dari 33 buku yang tercatat, tujuh diantaranya belum/tidak/hampir selesai dibaca.
Buku favorit saya tahun ini adalah buku kumpulan cerita karya Kazuo Ishiguro yang berjudul Nocturnes: Five Stories of Music and Nightfall. Buku ini ringan, tapi juga mengandung makna-makna yang subtil. Gaya penulisannya santai dengan ritme yang teratur dan gemulai. Perasaan yang saya rasa ketika membaca buku ini mirip rasanya seperti menjadi satu-satunya orang yang terjaga di dini hari.
Tahun 2012 akan segera tiba. Saya akan terus membaca.
***
Saya sedang berada di studio Kavling, memperbaiki maket. Saya lelah. Dari tempat saya duduk saya bisa melihat pepohonan yang ada di Jalan Dago, tinggi dan besar. Salah satunya menguning indah, sangat indah. Dini hari kemarin saya menegur seorang teman lama di jejaring sosial. Saya butuh seseorang untuk bercerita tentang dia yang beberapa lama ini menjadi semacam gravitasi. Sebenarnya saya tahu dimana posisi saya dan apa yang harus saya lakukan, tapi saya hanya tidak berani untuk mengakuinya. Lalu, kemudian saya ganti mendengar cerita si teman lama, dia rupanya sedang terlibat hal-hal yang rumit. Semoga jalan ditunjukkan baginya. Saya lelah. Saya ingin berjalan kaki bebas, masuk ke gang-gang perkotaan, tersesat di dalamnya, dan keluar di tempat-tempat yang baru. Saya khawatir, tapi seperti biasanya saya yakin, semuanya akan berjalan dengan baik. Saya ingin jadi orang yang lebih baik. Orang yang berani dan tidak gampang menyerah. Saya ingin jadi orang yang lebih baik. Orang yang tidak takut untuk merasa bahagia.
Sebuah percakapan di rumah.
***
Tante: (bercerita tentang khotbah di gerejanya) Masa, pendeta itu bilang yang diperingati itu harusnya kematiannya. Ngeri aku! Masa kematian!
Mama: Ah, ada yang salah kali itu sama pendetanya.
Saya: Kebangkitan kali maksudnya?
Tante: Jadi tadi pendeta itu bilang begini, “Kalau menurut saya, seharusnya kematiannya yang harus lebih diperingati daripada kelahirannya.” Masa begitu?
Saya: Tapi ada benarnya juga, sih. Yang jadi dasar iman Kristen itu kan memang kematian dan kebangkitannya.
Tante: Tapi selama ini, yang selalu dirayain itu kan kelahirannya.
Saya: Itu karena tradisi dari Barat aja. Tukar-tukaran kado dan sebagainya.
Tante: Berarti kamu setuju dong sama pendeta itu?
***
Oh, ignorance…. Kalau tahu saya senang membaca-baca buku tentang Buddha, yang seperti ini pasti akan melihat saya dengan penuh curiga.
Kemarin saya diajak Sri dan kawan-kawan pergi ke Kineruku. Sebenarnya sudah agak lama Zuhdi menganjurkan kepada saya untuk mengunjungi tempat itu, dan sebenarnya pula saya agak menganggap remeh reputasinya yang digembar-gemborkan itu. Lalu, karena sekelumit rasa penasaran dan waktu yang cenderung lowong, akhirnya barusan saya putuskan untuk ikut bersama Sri dkk pergi kesana. Tentunya, tanpa terlalu banyak ekspektasi….
N.H. Dini, Budi Darma, Putu Wijaya, Mochtar Lubis, C.G. Jung, Karen Armstrong, Italo Calvino, Jean Baudrillard, Jean-Paul Sartre, Umberto Eco. Bukan main! Sejuta topan badai! Anjing kudisan! Tiap menengokkan kepala beberapa derajat, mata saya langsung menangkap buku-buku yang menarik perhatian! Saya sampai–secara harafiah–dibuat pusing karenanya! (Bahkan mereka punya buku MVRDV dan Neufert Architects’ Data juga!)
Perasaan saya campur aduk. Senang, kesal, sekaligus sedih. Senang karena melihat koleksi buku yang begitu memikat. Kesal karena koleksi buku-buku itu bukan punya saya. Sedih karena masih banyak buku di kamar yang belum selesai saya baca padahal di hadapan saya sekarang ada puluhan buku menarik! Rasanya… aduh, seperti berselingkuh.
Setelah agak menahan diri untuk tidak mengambil buku yang ada di rak, saya pun menyerah dan mengambil “Buddha” karangan Karen Armstrong. Tapi, setelah saya membaca satu halaman dari buku tersebut, tiba-tiba listrik padam! Langit seolah-olah tahu saya sedang berselingkuh. Tapi, ohhohoho, saya tidak menyerah begitu saja! Saya ambil buku itu! Datangi kasir! Lalu saat itu juga, mendaftarkan diri untuk membuat kartu anggota! Buddha, saya meminjamnya dan akan membawanya pulang ke Jakarta!
Lalu sekonyong-konyong hujan turun…. Luar biasa, luar biasa.
***
Anyway, saya tidak menyangka ada tempat seperti itu. Isinya bukan hanya buku, tapi ada musik dan film juga. Saya sempat melihat beberapa CD dari kelompok musik yang jarang saya temukan di toko-toko musik besar. Kineruku, tempat yang berbahaya, kalau tidak hati-hati Anda dapat membelanjakan waktu dan uang dengan kurang bijaksana disana.
Waspadalah, waspadalah!
Anda telah diperingatkan!