“I’m always amazed how good you are at explaining things.”
“That’s my job,” I said. My words seemed somehow flat and stale. “You should try being an elementary-school teacher sometime. You’d never imagine the kind of questions I get. ‘Why isn’t the world square?’ ‘Why do squids have ten arms and not eight?’ I’ve learned to come up with an answer to just about everything.”
“You must be a great teacher.”
“I wonder,” I said. I really did wonder.
“By the way, why do squids have ten arms and not eight?”
(Sputnik Sweetheart – Haruki Murakami)
***
Di awal tahun yang baru ini koleksi buku saya bertambah oleh dua buah buku non-fiksi. Yang satu adalah buku bekas setebal 446 halaman yang saya beli melalui jejaring sosial, dan yang satu lagi buku filsafat yang diberikan oleh David sebagai oleh-oleh. Keduanya buku yang punya daya tarik intelektual. Saya baru membaca buku bekas yang saya beli itu, tapi itu saja sudah cukup membuat kepala saya terasa seberat gajah Thailand.
Akhirnya, saya pikir saya butuh melonggarkan syaraf-syaraf otak ini dengan ganti membaca buku fiksi. Jadi saya bongkar-bongkar kembali lemari buku saya, dan kemudian memutuskan untuk membaca ulang Sputnik Sweetheart karangan Haruki Murakami ini.