Sedikit cerita tentang Haruki Murakami dari sudut pandang saya. Haruki Murakami adalah salah seorang penulis favorit saya. Beliau lahir di Kyoto, Jepang, pada tahun 1949. Persinggungan pertama saya dengan karya Haruki Murakami, kalau tidak salah, saat saya kuliah di tingkat dua. Seorang teman lama merekomendasikan buku beliau kepada saya. “Karakter tokohnya mirip sama kamu. Pas saya baca, saya kebayangnya itu kamu,” begitu dia bilang. Teman lama ini lalu meminjami saya sebuah kopi novel Haruki Murakami yang berjudul Dance, Dance, Dance. Saya pun membacanya sepanjang liburan semester.
Dari saat itu, satu per satu, saya mulai mengumpulkan karya-karya Haruki Murakami. Protagonis dalam seluruh karangan Haruki Murakami punya karakter yang serupa. Mereka memiliki hidup yang biasa-biasa saja dan penampilan yang biasa-biasa saja; mereka gemar membaca buku dan mendengarkan musik (khususnya jazz dan klasik); mereka penyendiri dan tidak punya banyak teman; dan, dari kesan yang saya tangkap, mereka semua diselimuti kabut.
“…Books and music were my best friends. I had a couple of good friends at school, but never met anyone I could really speak my heart to. We’d just make small talk, play soccer together. When something bothered me, I didn’t talk with anyone about it. I thought it over all by myself, came to a conclusion, and took action alone. Not that I really felt lonely. I thought that’s just the way things are. Human beings, in the final analysis, have to survive on their own.”
Seberapa besar kemungkinan seseorang menemukan suatu karya yang bisa mengucapkan hal-hal yang tidak terkatakan oleh benaknya?
Saya tertarik dengan tulisan-tulisan Murakami karena saya dapat merasakan suatu kedekatan yang menelanjangi keresahan yang kadang saya sendiri tak bisa definisikan dalam kata.
Saya bukan satu-satunya. Saya hanyalah satu dari jutaan titik yang bergulat dengan kesendirian.