February read list:
- Catatan Pinggir 7 – Goenawan Mohamad
February read list:
Sebenarnya tidak ada kepentingan mendesak untuk menulis di sini, berikut ini mungkin hanya ceracauan awal dini hari yang tidak penting, jadi permisi. Akhir-akhir ini saya mulai bermimpi lagi, tapi saya tidak mau repot-repot mencatatnya, menulis di jurnal pun sudah mulai jarang. Saya rasa, memang, kebiasaan-kebiasaan yang berubah itu wajar saja. Ya, karena saya tidak mencatat mimpi-mimpi saya lagi, jadi ingatan tentangnya pun cepat sekali menguapnya. Tapi mimpi saya semalam (yang bisa dibilang agak tidak wajar) masih cukup segar dalam kepala ini. Di mimpi itu ada tiga orang adik kelas saya: si A, si K, dan si S. Dengan si A, saya berciuman. Dengan si K, saya beradu punggung dan berteriak keras-keras. Dan si S… dia menginjak kepala saya. Entah ada maksudnya apa tidak, besar kemungkinan hanya sekedar lompatan listrik di sel-sel otak belaka sih.
Awal dini hari itu sepertinya punya efek mirip alkohol. Seringkali ia memunculkan ke permukaan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan yang berusaha untuk ditekan dan dilupakan di siang hari. Di awal dini hari ini, saya bertanya-tanya, apa saya sudah cukup jujur dengan perasaan saya? Saya bertanya-tanya, apa saya sudah benar-benar memahami benak saya? Awal dini hari yang seperti alkohol ini membuat saya menelisik hal-hal yang saya pendam di bawah sadar. Dan mungkin sama seperti hangover, besok pagi ketika saya bangun, saya hanya akan merasa malu sendiri atas apa yang saya tuliskan di sini. Ya, sudah lah.
Bulan ini sepertinya saya akan jarang menulis blog karena saya sedang berusaha membuat sketsa wajah beserta memo kecil setiap harinya. Kegiatan sederhana seperti ini saja sudah benar-benar memakan fokus saya. Kalau ditilik, memo kecil di sketsa wajah itu bisa dikategorikan sebagai entri jurnal juga sebenarnya. Kalau saya berhasil melakukannya selama 29 hari ini, berarti saya telah menulis jurnal setiap hari selama sebulan! Ya, walaupun kedengarannya sepele dan hanya berupa satu-dua kalimat, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk ini. Mungkin ini bisa dibilang semacam usaha balas budi juga, untuk seseorang yang selama satu tahun yang lalu melakukan hal yang sejenis. Itu pun kalau orang itu lihat sih. Tapi dilihat atau tidak dilihat pun, setidaknya–mudah-mudahan–bisa ada gunanya buat orang lain.
Sepertinya saya akhiri di sini saja, besok saya ingin ikut ibadah pagi jadi harus tidur yang cukup. Tulisan ini mau saya tutup dengan sebait lirik lagu pembuka salah satu film animasi kesukaan saya:
Mari ucapkan selamat pagi/ Tunjukkan mimpimu lagi/ Semoga hari ini jadi hari yang indah/