Ditulis oleh

143

Saya menetapkan bulan Mei ini sebagai bulan menunggu petunjuk. Masa-masa ini cukup krusial bagi saya, menentukan kemana langkah pertama saya jejakkan. Bulan Mei ini saya jalani dengan sikap awas-awas tenang, sedikit lebih membuka diri, mencicipi sedikit sisi ini dan itu, sambil tetap menjalani hari-hari dengan kesibukan rutin–yang menjaga sense of reality saya.

Lalu, malam ini, di Bukit Dago Utara, sebentuk kesadaran menghampiri: Bandung belum selesai mengajari saya.

“To the future we surrender, life’s to lived and love’s to loved!”

142

April read list:

  • Museum of Innocence – Orhan Pamuk
  • Supernova: Partikel – Dewi Lestari
  • The Origins of Political Order – Francis Fukuyama

***

Pada akhir Maret saya mulai membaca Museum of Innocence setelah sebelumnya membaca Snow dari penulis yang sama. Snow bercerita tentang gegar budaya/sosial antara modernisme, tradisi, dan agama di sebuah desa kecil miskin di Turki. Dibalut dengan intrik politik membuat Snow menjadi karya sastra yang menarik. Atas dasar itu saya mencoba membaca Museum of Innocence, tapi ternyata agak di luar ekspektasi saya. Saat ini saya baru membaca hingga sepertiga jalan.

Sementara Museum of Innocence saya kesampingkan, saya membaca Supernova: Partikel. Kurang dari seminggu saya selesai membacanya. Buku ini pun agak di luar ekspektasi saya. Entah kenapa saya merasa beberapa karya terakhir Dewi Lestari terasa naif sekaligus pretensius.

Hari Sabtu kemarin saya pergi ke Pacific Place untuk melihat sebuah pameran arsitektur. Karena baru pertama kali berkunjung ke Pacific Place, setelah selesai melihat pameran, saya putuskan untuk berkeliling-keliling sebentar. Kemudian saya menemukan sebuah toko buku berbahasa Inggris. Saya masuk dan melihat-lihat lalu menemukan The Origins of Political Order. Beberapa waktu lalu saya sempat membaca ulasan buku ini di koran KOMPAS. Tertarik, saya mencatat judulnya ke dalam daftar buku yang ingin saya beli. Dan ketika Sabtu itu saya menemukannya, secara impulsif saya langsung membeli. Entah ini kebiasaan buruk atau baik, setiap kali memasuki toko buku, hampir dapat dipastikan 95% kemungkinan saya keluar dengan membeli buku. Dari hari Sabtu hingga hari ini saya masih tetap membaca The Origins of Political Order.

141

Sedikit bossanova untuk malam ini.

***

But I still walk the side streets home,
Even when I’m on my own
If I let myself believe all the bad press and horror stories,
I wouldn’t set a foot outside

I’m tempting fate, 
(I know, tell me about it)
So nonchalant,
(I know and I don’t doubt it)
I’ll probably get it tommorrow

140

Malam sudah mulai larut, namun acara belum kunjung berakhir. Saya masuk ke dalam ruangan sekre, ingin mengambil tas lalu pergi pulang. Tapi kemudian, saya lihat dia tertidur di dalam…. Dia terlihat cantik. Saya ingin mendekat dan mengamati wajahnya lebih lama, tapi saya takut mengganggunya, jadi yang saya lakukan hanya melihat sekilas dari depan pintu–merekamnya lekat-lekat dalam ingatan.

Hari ini adalah hari terakhir, tapi sepertinya saya belum benar-benar selesai. Oh, Tuhan… beri saya pertanda.

139

March read list:

  • Sasmita Tuhan: Kemenangan Suara Moral – Mohamad Sobary
  • Snow – Orhan Pamuk
  • Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa – Bre Redana

138

Portfolio 2012 saya sudah selesai! Di atas ini beberapa cuplikannya. Saya cukup puas dengan apa yang saya kerjakan, dan lebih percaya diri dengan portfolio baru ini.

Kalau boleh, saya mohon doanya ya.

137

Barusan saya menonton pertunjukan teater “Titik Nol” di Taman Ismail Marzuki bersama bapak. Bapak tidak terlalu antusias dengan pertunjukan tadi. Saya lihat memang antusiasme orang Batak terhadap kesenian, kecuali kesenian Batak, memang tidak terlalu besar. Kadang saya juga heran, kok, saya bisa jadi seperti sekarang ini ya?

Suasana di TIM tadi cukup hidup. Selain pertunjukan “Titik Nol”, juga ramai pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan Teater Koma. Di dekatnya ada sekumpulan mahasiswa IKJ yang menggelar pertunjukan musik rutin, ada juga anak-anak yang bermain bola dan berlatih tarian kontemporer di pelataran gedung teater yang baru. Terbuka dan humanis adalah kesan ruang yang saya rasakan. Berbeda dengan suasana ruang di pusat perbelanjaan yang terlalu sumpek dengan gempuran logo dan merek, di Taman Ismail Marzuki saya merasa lega dan ringan. Ruang-ruang seperti inilah yang ingin saya ciptakan di Tugas Akhir saya kemarin.

Hari ini ada beberapa ide cerita yang mampir di kepala, tapi saya capek dan malas menuliskannya.

136

Hubungan yang baik itu bukan sesuatu yang posesif dan mengikat. Saya pikir perlu ada tarik-ulur supaya ada rasa rindu. Sejak bulan Januari, saya tidak bersentuhan dengan arsitektur, kecuali untuk urusan penyusunan laporan-laporan dan presentasi. Menjelang wisuda saya berencana hanya mengumpulkan uang untuk membiayai rencana perjalanan saya mengunjungi biksu-biksu. Tapi baru saja saya melihat-lihat blog punyanya pak Budi Pradono–melihat rancangan-rancangan yang nyeleneh dan penuh ngawurisme. Beberapa saya tidak sukai, tapi toh saya jadi berdebar-debar juga karenanya! Saya rindu kepada arsitektur! Sampai-sampai rencana perjalanan mengunjungi biksu-biksu rasanya konyol dan buang-buang waktu! Ah, tapi diri saya yang lain berusaha meyakinkan supaya lebih bersabar, waktu-waktu seperti ini toh akan jadi langka setelah memasuki dunia profesional. Kalau memang mau melihat biksu-biksu, ya, sekarang-sekarang ini waktunya. Oke lah, saya pikir, tapi saya mesti cepat-cepat menyelesaikan portfolio pokoknya! Apinya ini tidak boleh dibiarkan lama-lama, bisa-bisa nanti padam. Kalau begitu kan nggak asyik!

135

Saya baru kembali dari Cirebon pagi tadi. Ibunda Monik–rekan kerja saya sewaktu di BPA–meninggal dunia. Mas Is mengabari saya hari Senin dini hari. Saya amat kaget dan sedih mendengar berita itu. Siangnya saya ke kampus mengabari Oppie. Lalu setelah mengembalikan dan meminjam buku di Kineruku, saya bertemu Oppie kembali dan langsung berangkat menuju Cirebon. Kami dari Bandung naik bus sekitar pukul dua siang dan baru tiba di Cirebon pukul setengah delapan malam. Di rumah duka kami bertemu mas Jimmy, mas Is, Monik, dan tantenya. Karena hari sudah larut, kami memutuskan untuk kembali ke Bandung keesokan harinya dan menginap berempat di sebuah penginapan milik kolega tante.

Selama ini Monik hanya tinggal berdua dengan ibunya di Jakarta. Soal ayah Monik, saya kurang tahu banyak, apakah bercerai atau telah meninggal. Kabar duka ini benar-benar mengagetkan saya, terlebih karena saya mengenal ibunda Monik. Selama outing BPA tahun 2011 lalu di Batukaras, beliau ikut serta, bahkan sempat duduk sebangku dengan saya di bus dan mengobrol-ngobrol. Terakhir kali saya berjumpa dengan beliau ketika pembukaan Pameran Patung Kontemporer di Galeri Nasional bulan Juli lalu. Saya mengira masih punya kesempatan-kesempatan lain untuk bertemu dengannya, tapi ternyata beliau dipanggil dengan begitu tiba-tiba. Ibunda Monik adalah orang yang baik, ceplas-ceplos, punya rasa ingin tahu, dan amat sayang kepada Monik–anaknya satu-satunya. Sekilas penampilan luarnya terkesan garang, tapi saya merasa diterima olehnya, dan karena itu saya menghormati dirinya.

Beliau meninggal karena suatu penyakit di lambungnya. Belum lama ini, kata tante Monik, saat perayaan Imlek bulan lalu beliau masih terlihat sehat-sehat saja. Rupanya beliau sempat juga dirawat selama beberapa saat di Rumah Sakit di Jakarta karena penyakitnya ini. Begitu kondisinya mulai membaik, beliau dan Monik memutuskan untuk pulang ke Cirebon. Lalu pada hari ulangtahunnya hari Minggu sore kemarin, beliau pergi untuk selamanya.

Mas Jimmy bercerita, hari itu Monik duduk di samping ibunya, “Selamat ulangtahun, Mama,” kata Monik, lalu saat itu beliau menangis.

Monik terlihat tegar menghadapi ini, dari matanya saya melihat semacam keteduhan. Tapi saya tidak dapat membayangkan kesedihan seperti apa yang dia tanggung di dalam dirinya. Sepulang dari Cirebon saya memikirkan Monik, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Pulang ke Jakarta dan melanjutkan bekerja? Atau tinggal dengan sanak keluarganya di Cirebon?

Monik adalah perempuan yang punya semangat besar dan paling pekerja keras yang pernah saya temui. Saya mengagumi passionnya dalam arsitektur. Saya merasa dengan semangat dan passion seperti itu suatu saat nanti Monik akan menjadi sesuatu. Tapi di usianya yang begini muda, tiba-tiba saja kemalangan ini menimpanya. Saat ini saya hanya bisa berharap dan berdoa agar Monik kuat dan tidak menyerah menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin ada di depannya.

134

February read list:

  • Catatan Pinggir 7 – Goenawan Mohamad
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.