Saya baru kembali dari Cirebon pagi tadi. Ibunda Monik–rekan kerja saya sewaktu di BPA–meninggal dunia. Mas Is mengabari saya hari Senin dini hari. Saya amat kaget dan sedih mendengar berita itu. Siangnya saya ke kampus mengabari Oppie. Lalu setelah mengembalikan dan meminjam buku di Kineruku, saya bertemu Oppie kembali dan langsung berangkat menuju Cirebon. Kami dari Bandung naik bus sekitar pukul dua siang dan baru tiba di Cirebon pukul setengah delapan malam. Di rumah duka kami bertemu mas Jimmy, mas Is, Monik, dan tantenya. Karena hari sudah larut, kami memutuskan untuk kembali ke Bandung keesokan harinya dan menginap berempat di sebuah penginapan milik kolega tante.
Selama ini Monik hanya tinggal berdua dengan ibunya di Jakarta. Soal ayah Monik, saya kurang tahu banyak, apakah bercerai atau telah meninggal. Kabar duka ini benar-benar mengagetkan saya, terlebih karena saya mengenal ibunda Monik. Selama outing BPA tahun 2011 lalu di Batukaras, beliau ikut serta, bahkan sempat duduk sebangku dengan saya di bus dan mengobrol-ngobrol. Terakhir kali saya berjumpa dengan beliau ketika pembukaan Pameran Patung Kontemporer di Galeri Nasional bulan Juli lalu. Saya mengira masih punya kesempatan-kesempatan lain untuk bertemu dengannya, tapi ternyata beliau dipanggil dengan begitu tiba-tiba. Ibunda Monik adalah orang yang baik, ceplas-ceplos, punya rasa ingin tahu, dan amat sayang kepada Monik–anaknya satu-satunya. Sekilas penampilan luarnya terkesan garang, tapi saya merasa diterima olehnya, dan karena itu saya menghormati dirinya.
Beliau meninggal karena suatu penyakit di lambungnya. Belum lama ini, kata tante Monik, saat perayaan Imlek bulan lalu beliau masih terlihat sehat-sehat saja. Rupanya beliau sempat juga dirawat selama beberapa saat di Rumah Sakit di Jakarta karena penyakitnya ini. Begitu kondisinya mulai membaik, beliau dan Monik memutuskan untuk pulang ke Cirebon. Lalu pada hari ulangtahunnya hari Minggu sore kemarin, beliau pergi untuk selamanya.
Mas Jimmy bercerita, hari itu Monik duduk di samping ibunya, “Selamat ulangtahun, Mama,” kata Monik, lalu saat itu beliau menangis.
Monik terlihat tegar menghadapi ini, dari matanya saya melihat semacam keteduhan. Tapi saya tidak dapat membayangkan kesedihan seperti apa yang dia tanggung di dalam dirinya. Sepulang dari Cirebon saya memikirkan Monik, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Pulang ke Jakarta dan melanjutkan bekerja? Atau tinggal dengan sanak keluarganya di Cirebon?
Monik adalah perempuan yang punya semangat besar dan paling pekerja keras yang pernah saya temui. Saya mengagumi passionnya dalam arsitektur. Saya merasa dengan semangat dan passion seperti itu suatu saat nanti Monik akan menjadi sesuatu. Tapi di usianya yang begini muda, tiba-tiba saja kemalangan ini menimpanya. Saat ini saya hanya bisa berharap dan berdoa agar Monik kuat dan tidak menyerah menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin ada di depannya.